Kuliah di Whatsapp Group KERLAP ATLIT

Jumat, 11 Agustus 2017
Pukul 19.00-21.00 WIB

‍Moderator : Bibi Eka Marhadiyani
‍Notulen : Bibi Wanda W. Soepandji
Peserta Kulwapp : 150 orang
Nara Sumber : Bibi Ayu Primadini (Praktisi Homeschooling dengan Metode Charlotte Mason)

Tema Materi : Mendidik dengan Metode Charlotte Mason

 

Data Diri Nara Sumber
Nama : Ayu Primadini
Tempat Tanggal Lahir: Jakarta 29 Juli
Tempat Tinggal: Ragunan – Jakarta Selatan
Suami: Ridawan
Anak: Taci (9) dan Tara (6)
Pendidikan: Sarjana Komunikasi
Pekerjaan: Full time mommy and part time EFL teacher
Kegiatan Sehari-hari: belajar, mengajar, dan sebagainya
Prinsip Hidup: Long live learning

 

Prolog dari Nara Sumber 

Halo teman teman Kerlap..

Sebelum saya menjelaskan tentang siapa, apa, dan bagaimana metode Charlotte Mason itu, saya punya beberapa pertanyaan yang jawabannya mungkin bisa teman teman pikirkan dan renungi masing-masing.

1. Apa visi/tujuan dari proses pendidikan yang teman teman berikan untuk anak? Dalam hal ini, manusia dewasa seperti apakah yang anda harapkan anak anda tumbuh kelak?
2. Bagaimana cara anda mencapai tujuan tersebut? Langkah apa saja yang sudah anda ambil dan apa saja yang sudah anda rencanakan?

“Visi pendidikan yang dipatok orangtua sungguh sangat penting. Sayang sekali masih banyak orangtua yang menetapkan standar pendidikan terlalu rendah, sebatas agar anak bisa cari kerja. Sangat mungkin seorang anak, karena baktinya pada orangtua, bersedia menanggung kejemuan belajar sampai selesai dan memperoleh ijazah meskipun jiwanya tak pernah sekalipun tergetar, tergugah oleh apa yang ia pelajari. Begitu sekolah selesai, ia tak lagi merasa butuh membaca atau belajar, lalu tenggelam dalam rutinitas hidup yang dangkal makna ” (Charlotte Mason, Parents and Children p. 19, translate by Ellen Kristi)

Memiliki visi yang jelas ditambah rencana cara mencapainya dengan detail, itulah yang akhirnya membuat saya jatuh cinta dengan metode Charlotte Mason. Pendidik dari Inggris ini (lengkapnya siapa itu Charlotte Mason bisa dilihat disini http://www.cmindonesia.com/profilcm.html) menekankan pentingnya bagi kita para orangtua untuk memiliki landasan (dasar pemikiran / filosofi) bagi semua kegiatan yang kita lakukan. Sebab cinta saja tidak cukup untuk mendidik anak anak kita, kita harus berfikir keras tentang bagaimana proses pendidikan ini harus dilakukan.

Kenapa anak harus belajar matematika? Kenapa harus belajar sains? Kenapa harus membaca karya karya sastra? Dalam metode CM semuanya disusun berdasarkan landasan pemikiran yang matang, bukan semata karena itu penting tapi CM meminta kita untuk memiliki visi bukan hanya dalam kerangka besar pendidikan, tp juga dalam setiap subjek atau kegiatan yang kita lakukan.

Prinsip prinsip dasar metode CM bisa dibaca di tautan in : http://www.cmindonesia.com/filosoficm.html

Jika sudah memahami filosofi dari metode pendidikan CM barulah kita bisa beranjak ke bagaimana keseharian penerapan metode CM. Sebab penerapan metode CM tanpa didasari dengan memahami filosofi nya, menurut ibu CM, tidak akan berhasil. Tapi bukan berarti juga kita harus sepenuhnya memahami dulu baru kemudian mempraktekkannya, ibarat belajar berenang, kalau nggak nyemplung ya kita akan susah memahami dimana letak kesulitan nya. Jadi sambil belajar, sambil praktek, sambil evaluasi terus bisa saja kita lakukan.

Metode CM ini memiliki subjek yang kaya. Anak anak bukan hanya belajar sesuai minat nya tapi belajar banyak sekali pelajaran, mulai dari matematika, sains, sastra, handicraft, sejarah, geografi, puisi, kitab suci, nature study, studi komposer, studi lukisan, bahasa asing sampai olahraga. Loh jadi kayak sekolah dong ya? Bedanya meskipun subjeknya banyak namun semuanya dilakukan dengan prinsip short lesson, alias singkat!

Untuk tingkat dasar awal biasanya anak anak CMers hanya belajar sekitar 2 jam, dengan perkiraan masing masing subjek sekitar 5-15menit.
Belajarnya pun tidak menggunakan buku teks seperti di sekolah, tapi menggunakan buku-buku hidup yang mampu menggugah jiwa anak.

Nah ini yang menjadi khas metode CM lagi : living books. Buku jenis ini tidak berisi fakta fakta untuk dihafal, tapi lebih ke arah naratif dan bercerita. Kata CM, anak anak harus diberikan buku buku terbaik yang pernah ada, buku buku yang bisa memantik benaknya untuk berfikir. Sebab pikiran itu seperti tubuh, butuh makanan. Pikiran harus bertumbuh, seperti tubuh yang harus bertumbuh. Dan pikiran hanya bisa tumbuh dengan baik jika kita beri ide ide yang bergiizi, sebab tubuh pun tak akan tumbuh jika diberi makan permen, coklat ataupun chiki-chikian bukan?

Hmm, sebenarnya panjaaang sekali kalau mau bicara soal metode CM ini, sebab beliau sendiri menulis 6 volume buku yang super tebal tebal mengenai metodenya ini. Tapi hal yang juga beliau tekankan adalah, pelajari sedikit demi sedikit. Sama seperti mengunyah makanan, kalau terburu buru bisa menyebabkan tersedak dan makanan tidak terolah dengan baik.

Untuk itu, saya cukupkan saja ya materi pengantar mengenai CM ini. Kita lanjutkan dengan diskusi agar lebih bisa dimengerti nantinya.

 

Ruang Tanya Jawab

1⃣  Pertanyaan dari Bibi Enggar

Metode cm ini apa bs diterapkan utk anak usia 1,5 dan 3,5 tahun? Kalau mulai darimana? Terima kasih

1⃣  Jawaban

CM ini sebenarnya filosofi pendidikan.. Dari filosofi tersebut baru beliau membuat detail mengenai teknis teknis cara mencapainya dalam bentuk metode.
Jadi sebenarnya metode CM bisa diterapkan pada siapa saja, bahkan pada kita yang sudah dewasa ini.
CM menyebut metodenya berdasarkan pada ‘natural law’.. Hukum alam yang terjadi pada manusia. Selama puluhan tahun menjadi guru, beliau mengamati benar perilaku anak, hubungannya dengan orangtua dan masyarakat.

Untuk anak usia dini, metode CM tidak menganjurkan anak anak untuk belajar akademis sama sekali. Juga tidak diperkenankan adanya jam belajar yang terjadwal untuk anak dibawah 6th. Lalu apa yang mereka lakukan?
Ibu CM percaya bahwa pada masa awal hidup anak anak ini dia masih eksplorasi sana sini. Jadi biarkan saja dia mengembangkan rasa ingin tahu dan menumbuhkan inisiatif nya. Toh kelak dalam masa masa ‘sekolah’ (formal years) dia akan sibuk terus sampai nanti dewasa. Jadi usia dini adalah saat untuk eksplorasi dan mengembangkan inisiatif nya.

CM hanya menekankan agar anak usia dini diajak main di alam sesering mungkin…dalam kondisi apapun. Beliau bahkan mengatakan, bermain di alam itu minimal sehari 5-7jam. Biarkan mereka mengenal ‘ibu alam’ tempat dirinya berpijak.

Selain alam, yang bisa dilakukan orangtua lain, menurut CM, adalah membacakan buku buku bermutu sedini mungkin. Sebanyak mungkin. Jadi bukan belajar membaca tapi membiasakan membaca. Menjadikan bacaan sebagai makanan untuk benaknya. Sebab anak yang bisa suka membaca karena biasa.

Kebiasaan, juga menjadi kata kunci dari pendidikan CM. Pelatihan kebiasaan (habit training) juga harus diterapkan pada anak sedini mungkin, bahkan sejak dia masih bayi baru lahir.

Maaf panjang jawabannya. Sekalian ngelantur. ✅

2⃣  Pertanyaan dari bibi Yufitria dan bibi Retno

– Contoh penerapan dalam metode pendidikan CM seperti apa ya?
Makasih bibi

– Apakah Mba Ayu ada foto2 kegiatan, referensi atau yg berkaitan CM, jd saya dan teman2 bisa lebih paham, pas bgt sy tipe visual

2⃣  Jawaban

Penerapan metode CM misalnya dengan mengadopsi ‘belajar akademis’ yang sesuai dengan prinsip prinsip CM. Dimana beliau percaya bahwa anak anak harus belajar dengan kurikulum yang kaya. Pelajari berbagai macam hal tp dengan prinsip short lesson.

Misalnya, belajar math 20 menit, lanjut sejarah 10 menit, lanjut menulis 10 menit, lanjut puisi, picture study, dll. Dalam sehari kami biasanya mempelajari 5-6 subjek (untuk anak saya yang 9th ya)

Duh barusan cari foto di gallery ternyata banyak yg sudah dipindah. Saya suka share kegiatan belajar anak anak di ig saya : @ayprimadin
Atau mungkin bisa coba hastag #charlottemasonid #charlottemasonhomeschool #charlottemassonmethod #charlottemasonliving macam itu deh di ig. Banyak sekali praktisi CM (terutama dari luar) yang share foto foto belajarnya di ig.

Hope this help ya mbak. Nggak punya foto ready soalnya ✅

3⃣  Pertanyaan dari bibi Sari

Saya ibu Andra 7th Hser. Bagaimana aplikasi belajar selama 2 jam dan setiap subjek hanya sekitar 15 menit. Karena kadang kita khawatir kalau anak baru belajar matimateka sbentar dia belum memahaminya 100% … Jd mesti banyak diberi latihan2… Kalau 15 menit per subjek apakah tiap hari kita ulang lagi atau bagaimana… Mohon penjelasannya…

3⃣  Jawaban

Setiap subjek sebenarnya bisa berbeda beda ya jumlah waktunya. Math biasanya mengambil porsi paling banyak memang. Anak saya biasanya belajar math sehari 20-60menit. Tergantung tingkat kesulitannya.

Prinsip CM adalah walaupun sebentar tp anak harus fokus. Percuma diberi waktu berjam jam kalau ia tidak fokus. Jadi sebagai orangtua kita harus bisa lihat seberapa lama dia bisa fokus, dan jangan beri dia beban waktu melampaui yang dia bisa.

Misalnya anak baru bisa fokus 5 menit per mapel. Ya sudah 5 menit dulu. Jika 5 menit sudab lancar fokusnya, baru perlahan naikkan jadi 10menit.

Pun begitu dengan materinya. Jika anak baru mampu mengerjakan soal latihan matematika 1 halaman, atau 2 soal saja misalnya, ya kita berikan dulu segitu. Yang penting anak terbiasa untuk mengerjakan sesuatu dengan usaha yang sempurna. Eh tambahan dikit, kl math biasanya termasuk yg dipelajari setiap hari. Jadi biar sedikit sedikit, tp setiap hari, jadi macam drilling juga. ✅

4⃣  Pertanyaan dari Bibi Delih

Saya tertarik dengan poin no 6 “Pendidikan adalah atmosfir” bukan berarti mengurung anak-anak dalam suatu lingkungan buatan yang khusus dirancang bagi anak-anak, namun memanfaatkan kesempatan-kes canempatan dalam lingkungan alamiah anak sehari-hari dan membiarkannya belajar dari orang-orang dan benda-benda di sekitarnya secara bebas. Belajar dari hal-hal nyata di dunia nyata. Lingkungan buatan justru menghambat perkembangan kepribadian anak.
Yang ingin saya tanyakan, apakah free play atau bermain bebas atau anak mengexplore sendiri saat bermain di lingkungannya termasuk metode CM?. Jika iya, apa batasan2nya?.

Lingkungan buatan akan menghambat perkembangan kepribadian anak?, Lingkungan buatan itu seperti apa?. Bagaimana dengan klub2 belajar anak seperti klub science, dll?
Terima kasih

4⃣  Jawaban

Free play memang termasuk dalam metode CM. Waktu bermain adalah waktu dia mengexpresikan apa yang ada dalam benaknya, setelah ia banyak mengamati apa yg dilakukan orang dewasa atau dari cerita2 yang dibacakan padanya.

Lingkungan buatan yang dimaksud misalnya seperti ruangan di taman kanak kanak.. Yang semuanya disetting sedemikian rupa untuk menyenangkan anak. Nah menurut CM itu berlebihan, biarkan saja anak anak berada di lingkungan biasa, nantinya dia akan belajar bagaimana agar bisa mengadaptasikan dirinya.

Contoh kecil misalnya, anak mau cuci tangan tp tinggi badannya tidak mampu menjangkau wastafel, maka ia akan berfikir gimana caranya supaya sampai. Misalnya dengan ambil kursi kecil.
Tapi kalau semua sudah disediakan sesuai kemudahan bagi dia, suatu saat dia menemukan yang kondisi (yang sebenarnya) normal namun tidak mudah bagi dia, besar kemungkinan ia akan merengek.. Karena terbiasa dengan kemudahan yang didapatnya.

Klub belajar tidak masalah kok mbak. Asal tetap membuat benaknya aktif bekerja, bukan sekedar disuapi pengetahuan. ✅

5⃣  Pertanyaan dari bibi Zia
Gmn tolak ukur keberhasilan dari metode CM ini? shg bs membuat kita yakin bahwa sudah melakukannya dg benar? ada sistem penilaian tertentu ga?

5⃣  Jawaban

Ada. Untuk sebuah metode akademis, CM sangat lengkap sebenarnya. Setiap mapel ada panduan bentuk evaluasi nya. Bahkan dalam keseharian, salah satu kekhasan CM adalah narasi, dimana secara tidak langsung kita bisa mengevaluasi seberapa paham dia dengan materi yang baru kita bacakan.

Tolak ukur keberhasilan metode CM sebenarnya adalah dari ketertarikan belajar dan kemampuann anak yang bertambah. Saat anak 9th tertarik pada isu isu politik tapi juga gandrung pada sejarah, musik dan lukisan misalnya. Atau saat anak tiba tiba bisa mengkorelasikan buku yang dibacanya dengan pengamatannya di alam misalnya.. Begitulah bagaimana kami menganggap metode CM sudah mulai perlahan membentuk dirinya. ✅

6⃣  Pertanyaan dari bibi Diah :

Metode CM, khusus utk yg HS atw bisa juga utk yg anak sekolah formal juga?

6⃣  Jawaban

CM sendiri seperti layaknya metode pendidikan karakter. Asal paham prinsip2 nya, CM bisa diterapkan pada anak sekolah maupun homeschool.

Sampai sekarang sekolah yang mengadopsi kurikulum CM juga masih ada (misalnya : Ambleside School). Sayang bukan di Indonesia ✅

7⃣  Pertanyaan dari bibi Eka :

Metode CM ini kan sarat dg living books ya bi ? Adakah referensi living books yg digunakan oleh bibi Ayu dirumah, yg berbahasa Indonesia ?

Kemudian sharing sedikit doong kenapa bibi Ayu memilih menggunakan metode CM dibanding yg lain misal Montessori ? Tq bibi

7⃣  Jawaban

Cari living books berbahasa Indonesia itu emang bak cari jarum dalam jerami. Susah sih, tapi pasti ada. Selain yang terjemahan (meski dalam bahasa aslinya termasuk living book, kalau diterjemahkan dengan kurang baik nilai living nya bisa berkurang jauuuh. Jadi tidak semua living books terjemahan itu termasuk kategori living books), kami mencoba baca sana sini untuk ngerasain mana yang rasanya ‘hidup’.

Untuk geografi sekaligus sejarah, kami pakai bukunya Alfred Wallace yang kepulauan nusantara. Buku buku sejarah terbitan komunitas bamboe juga banyak yang lumayan asyik dibaca. Sayangnya bahasanya kadang agak terlalu berat untuk usia anak saya sekarang. Saya juga suka biografi2 tokoh indonesia. Sejauh ini anak saya yang 9th sudah baca biografi Ki Hajar, Gus Dur, dan sekarang mau masuk baca biografi Soekarno yang disusun oleh Cindy Adams.

Untuk sastra, sebenarnya banyak sastra Indonesia yang keren keren. Sayangnya juga, sering ada adegan dewasa yang tertulis disana. Seperti novel novel Pramoedya, masuk kategori living books, tapi ya kalau untuk anak tingkat dasar masih belum bisa. Pun begitu dengan karangan Arswendo Atmowiloto, seringnya ringan tapi maknanya dalam.. tapi ya itu ada saja adegan xx nya. Kecuali keluarga cemara ya.. Itu favorite anak anak saya..

Yang sudah saya kenalkan juga ke anak anak paling novel seri kenangannya NH Dini. Belajar sastra sekaligus sejarah yang hidup. Asyik sekali…

Kenapa pilih metode CM? Sejak awal, alasan saya untuk memilih homeschool adalah karena saya ingin menitikberatkan pada pendidikan karakter. Tapi sebelumnya rasanya pendidikan karakter itu abstrak sekali. Banyak yang punya goal karakter a, b, c tapi giliran masuk ranah ‘bagaimanua caranya mencapai goal itu?’ aplikasinya belum bisa masuk di akal saya.

Nah baru di CM ini saya lihat ada metode yang visinya seperti visi saya, karena memakai hukum alam sebagai landasan, namun cara mencapainya juga detail sekali.

Sekarang saat diterapkan ke anak, meski kadang terengah engah, tapi hasil perubahan karakternya perlahan mulai terasa. ✅

 

8⃣  Pertanyaan dari Bibi Wanda

Pada butir ke 16 Filosofi Pendidikan Charlotte Mason tertera “Ada dua pembimbing pertumbuhan moral dan intelektual yang perlu kita kenalkan kepada anak, yakni hukum kehendak ( the way of the will ) dan hukum nalar ( the way of reason ). Penjelasan detail tentang keduanya ada di butir 17 dan 18.

Saya membutuhkan penjelasan lebih lanjut:
– Bagaimana prinsip bekerjanya hukum kehendak dan hukum nalar?
– Bagaimanakah contoh nyata hukum kehendak dan hukum nalar?
– Bagaimana hukum kehendak dan hukum nalar dapat berelasi membimbing pertumbuhan moral dan intelektual anak anak kita?

8⃣  Jawaban

Wah pertanyaan bibi wanda berat sekalii.. Jawabannya bisa satu buku sendiri itu. Ada buku yang judulnya The Way of The Will karangan Sonya Shafer, nah itu membahas lengkap pertanyaan bibi wanda. Mohon maaf Bibi Wanda aku belum bisa menjelaskannya secara sederhana.

Pemikiran pemikiran CM ini memang dalam sekali. Kadang butuh dibaca berkali kali, direnungi, ada kejadian terkait, baru deh kita bisa paham.
Sebagai CMers saya juga masih belajar, setiap hari masih saya kunyah sedikit demi sedikit kalimat demi kalimat yang ditulis ibu CM.

Dari enam volume bukunya, saya baru baca 2! Itupun setelah beberapa tahun memutuskan jadi CMers. Sebelumnya saya lebih suka baca buku tentang CM (macam bukunya mbak Ellen, atau buku2 lain yang sejenis) dibanding membaca langsung buku buku karangan CM. ✅

9⃣  Pertanyaan dari Paman Suryo

Butir 4: Prinsip otoritas dan ketaatan harus dibatasi oleh respek pada kepribadian anak. Otoritas bukanlah lisensi untuk menyakiti anak. Orangtua dilarang mempermainkan rasa cinta, rasa takut, sugesti, atau kharisma, atau hasrat hasrat alamiah anak lainnya.

Butir 5: Hanya ada tiga instrumen pendidikan yang boleh digunakan untuk mendidik anak – atmosfir alamiah, disiplin kebiasaan baik, dan penyajian ide ide hidup.

Pada satu sisi orangtua harus mendidik dalam kedisiplinan namun di sisi lain cara mendisiplinkan seringkali bercampur dengan mempermainkan rasa cinta, rasa takut, sugesti, atau kharisma.

Misalnya anak balita 3 tahun bertamu, lalu berdiri di sofa tuan rumah, lalu orangtuanya sudah mengingatkan dengan baik berkali kali, anak tidak menggubris, kemudian biasanya keluar ancaman agar anak segera patuh dan tidak membuat malu.

Bagaimana pemikiran ibu Charlotte Mason untuk mendisiplinkan kebiasaan baik pada anak?

Terima kasih Bi Ayu

9⃣  Jawaban

Paman Suryo, habit training juga perlu diterapkan pada kita selaku orangtua. Nada bicara, isi pembicaraan, gaya berfikir, cara memperlakukan anak, semuanya mesti perlahan kita ubah juga menjadi metode yang tepat.

Habit training juga bukan soal sehari dua hari. Tapi harus diterapkan dalam kurun waktu yang cukup untuk membuat kita konsisten selamanya.

Dalam kasus anak naik sofa misalnya. Pembiasaannya bisa dilakukan mulai dari rumah. Diajarkan kalau sofa, terutama di rumah orang, tidak untuk dinaiki. Anak dibiasakan untuk bersikap baik di depan orang. Sehingga saat ada kejadian seperti demikian anak tinggal diingatkan saja.

Kalau yang saya lakukan biasanya, membuat kesepakatan sebelum melakukan sesuatu. Misal, nanti di rumah eyang x bersikap yang baik ya. Jika anak setuju, kita pergi. Jadi ketika ada kejadian yg tidak mengenakkan, kita tinggal mengingatkan dia dengan kesepakatan kita.

Terkadang ketika saya menawarkan kesepakatan, bungsu saya tidak setuju dari awal. Tapi dia tahu, kalau tidak sepakat ya tidak usah pergi. Jadi dia belajar memutuskan untuk memilih sikap mana yang mau dia ambil.. dan kalau merasa belum mampu, dia katakan dengan jujur dan saya harus menghormati nya. ✅

 

Penutup dari Nara Sumber

Keep learning. Karena anak anak butuh orangtua yang terus belajar, untuk menciptakan atmosfer belajar yang hidup sebagai oksigen mereka.